Butuh motivasi untuk ke dokter gigi
‘Cause you don’t need nobody to make it on your own
You dont need nobody you’d rather be alone
So Jimmy gets high tonight
And Jimmy gets high tonight
- Jimmy Gets High, Daniel Powter
Tebak apa yang saya lakukan kemaren? Yap!! benar!! saya habis ke dokter gigi (yang nebak bener siapa coba, aneh kamu mbel). Sebenernya bukan dokter gigi, lebih tepatnya calon dokter gigi soalnya masih mahasiswa. Kebetulan gigi saya emang banyak bermasalah. banyak bermasalah ini bisa didefinisikan lebih lanjut dengan : bolong 4. Dan hari ini adalah pertemuan saya yang kedua dengan calon dokter gigi yang baik hati menawan berseri sepanjang hari tralala trilili *Prak* (gembel dikepruk sandal, tetep senyum). Pertemuan pertama dulu cuman diagnosa doank, yang diagnosa juga bukan calon dokter gigi yang berseri sepanjang hari seperti matahari syalalala slilili *grombyang* (gembel dilempar kompor, masih tetep senyum). Dan hari ini adalah pertemuan kedua sekaligus perawatan gigi bolong sesi pertama.
Saya berangkat dari rumah dengan hati riang dan gembira. Saya juga sempet bertanya tanya, apa sih yang mengerikan dari ke dokter gigi. Selama ini kan paradigma klo ke dokter gigi kan : mengerikan. Beberapa temen saya bahkan mengalami gejala trauma dokter gigi (dentist traumatic stress disorder). Mendengar kombinasi dari huruf d, r dan g langsung kejang kejang gak karuan, ya kan purnama? hehehhehhe. Dan saya baru mengetahui jawaban dari semua itu kemaren T_T. Memang butuh keberanian dan motivasi tinggi untuk ke dokter gigi.
Nyampe di FKG (bukan fakultas kelebihan gadis, walaupun menurut saya begitu) sekitar jam 12 an lebih. Nunggu di bawah pohon sambil baca paper SOA (so geek mbel). Selang beberapa menit , ringtone RAN - Pandangan Pertama terdengar dari hape saya.
calon dokter gigi (CDRG) : Ki, dimana? (dengan nada bertanya)
calon CEO (CCEO) : di bawah pohon yang kemaren yan (nada sok cool , calm and kuli)
CDRG : oh, oke tungguin disana ya, aq kesana (nada bergegas)
CCEO : yup (sambil nyanyi lagunya RAN, siul siul)
Dan akhirnya CDRG datang juga. Kita berdua bergegas untuk menuju ke klinik eksekusi perawatan. Saya didudukkan di kursi khas dokter gigi. Sebari menunggu dokternya selesai melakukan ritual, saya masih sempat mendokumentasikan momen yang-seharusnya-menegangkan ini. Oh ya CDRG yang ada di cerita diatas namanya Dian. Bagus bukan namanya (HALAH!!!!).

orang pintar tau kapan buka mulut, sayangnya yang ini enggak
16 comments Maret 12, 2008

