Bandung In My Point Of View
April 10, 2009
I just have to let you know
Maybe there’s a place for you and me, yeah
I just have to let you know
That it’s you I’m thinking of
That’s it’s you I’m thinking of
– Relish, You Im Thinking Of
Bandung, ibu kota Jawa Barat, Paris van Java dan kota kelahiran gue. Yap, beberapa hari yang lalu Kiki Ahmadi pulang menuju tanah kelahirannya. Sebenarnya barengan seangkatan dalam rangka studi ekskursi sih tapi sengaja pulang nelat karena satu dan banyak hal. Salah satunya adalah spent some time to have a date with this beautiful lady
.

taman kota di jalan merdeka
Seorang kiki ahmadi alkisah menghabiskan masa kecil di kota ini sebelum akhirnya ikut migrasi kedua orangtuanya ke belahan timur pulau jawa, Surabaya. Meskipun begitu, dari SMP gue udah terbiasa ke Bandung sendirian naek kereta klo liburan. Melakukan perjalanan 14 jam dari Stasiun gubeng sebelum akhirnya dijemput Om dan Eyang di Stasiun bandung. Seiring dengan bertambahnya usia gue, bagian dimana Om dan eyang menjemput digantikan dengan Kiki Ahmadi keluar dari stasiun dan keluyuran sendirian sebelum akhirnya naek angkot jurusan ledeng
This city had given me some of my greatest memories. And i will tell you all some of it
.
Tempat berteduh gue klo bertandang ke kota kembang ini adalah di jalan Cipedes no 42, Gegerkalong. Disini tinggal eyang berdua, om iwan dan istri beserta tante cici. Jaman gue masih kecil dulu rumah eyang rame karena didalamnya tinggal anak anaknya yang berjumlah 10. Dan waktu juga yang akhirnya membuat rumah itu ditinggalkan satu persatu oleh penghuninya yaitu om2 dan tante gue karena mereka menempuh hidup baru bersama pasangannya masing masing. But my impression is pretty much the same when the first moment i sleep there, i still called it my home
.

suasana dirumah eyang ketika lebaran
Speaking of bandung, cerita kiki ahmadi tidak akan lepas dari salah satu landmarknya yang bernama Ciwalk (Cihampelas Walk). Let me tell you a story.

Cihampelas Walk kala hujan
Ini terjadi di sekitaran kelas 3 SMA. As usual jalan jalan gak jelas sendirian malem malem di Bandung adalah kegiatan yang biasa penulis blog ini lakukan, dan pada waktu itu gue pertama kali ke Ciwalk. Pemandangan waktu itu keren banget, lampu dimalam hari dan love song yang diputer dengan slow. You know what, it was romantic. And i was thinking will it be nice to bring a lovely girl here for a date.
Waktu berjalan cepat, many things happened. Its been nearly 4 years after that, i bring a girl to this place. After a movie together, we sat on one of its chair. With all of my courage left, i said :
“what will you gonna do next if i say i like you ?”

The Legendary Bench
Mungkin bukan kata kata yang cukup merepresentasikan maksud dan tujuan gue, but at least she know what i meant haha. Butuh waktu 4 tahun dari semenjak kata kata itu lewat di pikiran gue dan menjadi kenyataan. Well folks, this bench is gonna be (wait for it) legendary, at least for me
.
Ciwalk juga tempat dimana gue pertama makan ramen. Sebenarnya bukan apa yang dimakan yang jadi point of attention tapi siapa yang menemani. Yeach, you know what im saying about.

Ditiup dulu dong biar gak panas
Terakhir kesana, Ciwalk sedang direnovasi. I really hope that the bench is still gonna be there
.
Tempat terakhir di bandung yang menjadi point of interest gue adalah Stasiun Bandung. Tempat ini adalah simbol awal dan akhir dari setiap petualangan yang gue alamin di bandung.

departure and arrival.
Stasiun ini tempat seorang kiki ahmadi duduk menunggu kereta pulang sambil membayangkan segudang rutinitas yang akan meraung raung kehidupannya kembali. Dulu gue cuman bengong sendirian nunggunya, tapi sekarang ada yang nemenin.
Kita biasa ngobrol kesana kemari sambil menunggu kereta Turangga datang jam 7 malem. Simple memang but it just feel like time will last forever and i enjoy every seconds of it. Klise, karena waktu jugalah yang akan memisahkan gue dan inez sejauh 696 kilometer segera setelah kereta berangkat.
Well, sepertinya sekian dulu cerita gue yang cukup panjang ini. Gak kerasa ternyata jadi panjang
.
Bandung, with all the sentimental reasons you give me. I will always come back
.
Entry Filed under: Uncategorized. Tag: bandung, indresvari.




Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed